09.27

You never “survive” the pain, or “get over” it,

because it’s always there. 

No matter how strong you think you are, there will always be that one moment, 

when you just start thinking what could’ve been, and break.

You will start remembering all the feelings you’ve experienced towards someone,

but you can never fully remember them, because 

they’re not there anymore,

                                                 gone,

                                                             forever.
You will start crying until you get tired and the moment you think it’s over, 

you feel even worse, 

you feel numb, 

you hate yourself for feeling that way, 

and you can’t change anything.
– Bima, 17 November

Advertisements

Rina Nose; Tubuhnya, Otoritasnya!

Jum’at pagi (10/11/2017) saya berkunjung ke perpustakaan sekolah. Saat itu saya ingin memperpanjang waktu peminjaman buku-buku yang saya pinjam. Petugas perpustaan saat itu nampak sedang menggerutu sambil menonton berita gossip di televisi. Iya, mereka berkomentar tentang keputusan Rina Nose untuk melepaskan hijab. Kalimat yang mereka ucapkan masih terngiang-ngian di kepala saya

“Dasar tukang cari sensasi”

“Palingan lepas hijab karena gak laku lagi”

“Kamu itu yang bukan islam (mengutuk rina nose)”

 Sejujurnya, saya sedikit miris saat mendengar pernyataan ini.  Orang orang konservatif yang belum bisa mengerti tentang “hak dan keputusan” individu. Para Netizen beranggapan bahwa memakai hijab adalah suatu prestasi dan membuat harga diri seseorang menjadi mulia. Dan sebaliknya, orang yang melepas hijab diberi stigma “buruk”, “fake muslim”, bahkan menganggap orang itu harga dirinya sudah tercoreng. Pertanyaan saya adalah; Mengapa kita harus menilai harga diri seseorang dari apa yang dia kenakan? Apa hanya karena suatu hari Rina Nose merasa bingung dan gundah atas tubuhnya dan memutuskan untuk melepas hijab, tiba tiba dalam sekejap itu membuat harga diri dia jatuh? Bagaimana dengan prestasi yang sudah dia buat selama ini?  Apakah harga diri seorang perempuan hanya dinilai dari kain yang menutupi tubuhnya?

Dan apakah keputusan Rina Nose itu salah?

Jawabannya, Tidak. 

Remember this; Her Body, Her Right, Her Rule

 (Tubuhnya, Haknya, Aturannya)

 Seringkali kaum perempuan di Indonesia menyebarkan budaya patriarki, mengekang keputusan dan hak individu atas tubuhnya sendiri. Katanya indonesia adalah negara Demokrasi, yang menjunjung hak setiap manusia, apa itu hanya mitos belaka? Perempuan yang memiliki otoritas penuh atas tubuhnya dan nasibnya, malah dibikin susah untuk membuat keputusan hidup. 

Kalaupun para netizen berkomentar bahwa keputusan Rina Nose itu “Dosa” Maka itu urusan dia dengan TuhanNya. Bukan urusanmu. Dan tolong, berhenti membuat stigma negatif terhadap wanita yang tidak berhijab. Wanita berjilbab bukan berarti kelakuannya baik. Wanita tidak berjilbab juga bukan berarti kelakuannya tidak baik. Hijab tidak membuat pikiran kamu bebas dari kebodohan atau hati kamu bebas dari kebencian. Mau berhijab ya silahkan, mau tidak berhijab juga ya bebas.

Ingat! Tubuhmu adalah otoritasmu! Bukan milik orang lain.

Untuk teh Rina, my support and my respect are with you 🙂

Kehilangan

Ada saat dimana orang-orang yang selama ini kita anggap tidak akan pernah meninggalkan kita, Tiba tiba suatu masa mereka secara perlahan menghilang. Entah itu menghilang secepat cahaya ataupun secepat angin.

Kamu tidak akan pernah menyangka kekasih yang dulu mengikat janji bersamamu, yang katanya tidak bisa hidup tanpamu. Tiga bulan kemudian telah beradu kasih dengan orang lain. Dia tidak lagi bersamamu. Kaliah sudah tak cocok. Katanya perasaan dia sudah tidak seperti dulu lagi.

Kamu tidak akan pernah menyangka bahwa sahabatmu yang sering berbagi canda bersamamu dan acap kali mengajakmu makan ke restaurant favorit kalian. Tiba-tiba saja seminggu kemudian diam membisu saat berpapasan denganmu. Bahkan bertatap mata saja tak sudi.

Kamu tidak akan menyangka kelak salah satu kerabatmu. Yang kamu ajak bicara setiap hari, yang berbagi satu atap denganmu dan yang sering memelukmu  sebelum tidur; tiba – tiba mereka tiada, tanpa peringatan dan aba aba. Mereka pergi untuk selamanya.

Karena pada akhirnya, mereka akan meninggalkanmu. Tak ada yang bisa dipertahankan.

Rumit

Ada orang yang hidup dengan damai dan tidak menyadari arti menderita

Ada orang yang mati dan mereka sangat mengerti arti menderita

Ada orang yang ingin hidup selamanya, namun takdir berkata untuk mati secepatnya.

Ada orang yang ingin mati secepatnya, namun takdir berkata harus hidup lama yang satu hari rasanya seperti seribu tahun.

Bima, 19 October

Yuk, Lebih Peka Terhadap Teman Kita

Berita Kematian memang sudah tak asing ditelinga kita. Penyebab kematian pun bermacam macam, entah itu karena kecelakaan lalu lintas, tertimpa penyakit, pembunuhan dll. Lalu bagaimana orang yang mati karena bunuh diri? Salah satu kasus bunuh diri yang baru baru ini terjadi adalah  kasus gantung diri pemuda asal Kabupaten Bima Kec. Sape. Pemuda ini ditemukan tewas gantung diri oleh bapaknya sendiri sekitar pukul 09.00 WITA, Jum’at (20/10).

Berita ini dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru Kota Bima, termasuk sekolah Man 2 Kota Bima. Reaksi orang orang yang mendengar berita ini pun beragam. Ada yang turut bersedih, memberikan statement negatif hingga mengutuk perbuatan bunuh diri itu. Saya tumbuh di lingkungan yang religius dan topik bunuh diri dianggap masih tabu. Umumnya di Lingkungan saya menganggap bahwa bunuh diri itu dosa, mengantarkan kita ke neraka, melawan takdir dll. Tapi, hanya sedikit orang yang mau mencari tahu  tentang “apa, kenapa, dan mengapa sih orang memilih untuk mengakhiri hidupnya?”. Mungkin hampir tidak ada yang mau mencari tahu dan lebih memilih untuk menyumpahi korban.

Kita bisa mengambil kasus pemuda tadi, dia memilih untuk bunuh diri karena dia merasa tidak kuat lagi dengan keadaan dia. Dia depresi, tertekan, dan merasa hampa dihidupnya. Mungkin ada yang beranggapan:

“Lebay banget sih, saya juga gak akan kayak gitu kalau di posisi dia”.

Jadi begini, masalah yang ditanggung setiap orang itu berbeda beda, ada orang yang masih bisa kuat untuk melawan masalah itu dan ada juga orang yang sudah tidak kuat lagi, dan akhirnya memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya.

“halah, pasti bunuh diri karena kurang ingat Tuhan”

Saya setuju apapun masalahnya harus kembali lagi ke Tuhan. Tapi, apa kita pernah bayangkan bagaimana kondisi orang yang mental dan psikisnya lagi berantakan. Apakah dia akan ingat sama Tuhan? Untuk mengontrol rasa sedihnya saja sangat susah. Bahkan kita tidak pernah tahu cara Tuhan bekerja, malah bisa muncul kecenderungan untuk tidak percaya lagi Tuhan karena doa yang dia panjatkan tidak dijawab jawab.

“Lalu, apa kita harus mendukung perbuatan bunuh diri?”  

Tidak. Jika teman kita sedang dalam masalah dan memiliki pikiran untuk bunuh diri. Disitulah peran kita sebagai manusia untuk membantu manusia lain. Kita bisa mencegah orang yang ingin bunuh diri. Mulai dari memahami kondisi duka mereka, jangan ejek mereka, bantu mereka untuk melewati itu, dan berikanlah mereka semangat untuk hidup. Kalaupun anda ingin mendakwahi mereka bahwa perbuatan bunuh diri itu dosa, saya ingin mengingatkan bahwa menjatuhkan mereka yang sedang down juga tidak baik dalam agama, dan akhirnya kamu hanyalah membuat mereka semakin terpuruk. Bukankah membuat orang sedih juga tidak baik dalam agama?

Terakhir, Untuk teman teman di luar sana yang sedang merasa sedih/patah semangat. Percayalah, di luar sana masih ada orang yang ingin mendengar keluh kesahmu. Ceritakan keluh kesahmu dan tolong jangan dipendam sendiri. Masih banyak orang yang peduli padamu, tetap semangat ya.

Kami mencintaimu♡

Sumber:

[1] http://kahaba.net/berita-bima/48629/pemuda-di-sape-ditemukan-tewas-gantung-diri.html